⚡ Praktikum Hukum Ohm
1. Area Simulasi — Meja Laboratorium
Tampilan meja laboratorium nyata dengan power supply, voltmeter & amperemeter analog, resistor berkode warna, breadboard, dan kabel konektor. Atur tegangan dan amati jarum meter bergerak.
2. Tabel Data Pengamatan
Setiap kali Anda menekan "Catat Data", satu baris akan ditambahkan. Error menghitung selisih antara arus terukur (simulasi + noise ±2%) dan arus teori (I = V/R).
| No | R (Ω) | V (Volt) | I Teori (mA) | I Ukur (mA) | Error (%) |
|---|---|---|---|---|---|
| Belum ada data. Lakukan pengukuran terlebih dahulu. | |||||
3. Petunjuk Penggunaan
- Pilih Resistor: Klik salah satu tombol resistor (1 kΩ, 1.5 kΩ, atau 2 kΩ).
- Atur Tegangan: Geser slider "Tegangan Power Supply" dari 0 V hingga 12 V. Perhatikan jarum voltmeter & amperemeter bergerak.
- Amati Display: Voltmeter (kuning) dan Amperemeter (cyan) menunjukkan pembacaan real-time.
- Catat Data: Klik tombol "📝 Catat Data" untuk menyimpan satu baris pengukuran.
- Ulangi: Ubah tegangan dan/atau resistor, lalu catat lagi. Lakukan minimal 7 pengukuran.
- Amati Grafik: Canvas bawah menampilkan grafik V vs I — garis lurus membuktikan Hukum Ohm!
Rumus Hukum Ohm:
V = I × R → I = V / R
dengan V = tegangan (Volt), I = arus (Ampere), R = hambatan (Ohm).
4. Teori / Dasar Hukum
Pengenalan: Georg Simon Ohm dan Hukumnya
Pada tahun 1827, fisikawan Jerman Georg Simon Ohm (1789–1854) mempublikasikan hasil eksperimennya tentang hubungan antara tegangan, arus, dan hambatan. Melalui percobaan teliti menggunakan kawat logam dengan berbagai panjang dan penampang, Ohm menemukan bahwa arus yang mengalir melalui suatu penghantar berbanding lurus dengan beda potensial (tegangan) di antara kedua ujungnya, asalkan suhu penghantar tetap konstan. Hubungan fundamental ini kemudian dikenal sebagai Hukum Ohm dan menjadi salah satu pilar utama dalam ilmu kelistrikan.
Dasar Teori
Secara matematis, Hukum Ohm dinyatakan sebagai:
V = I × R
di mana:
• V = beda potensial / tegangan (Volt, V)
• I = kuat arus listrik (Ampere, A)
• R = hambatan / resistansi (Ohm, Ω)
Dari rumus di atas, dapat diturunkan dua bentuk lain: I = V/R (untuk menghitung arus) dan R = V/I (untuk menghitung hambatan). Dalam grafik V terhadap I, Hukum Ohm menghasilkan garis lurus yang melalui titik asal dengan kemiringan (gradien) sama dengan nilai hambatan R. Semakin besar R, semakin landai garisnya — artinya untuk tegangan yang sama, arus yang mengalir lebih kecil.
Penting untuk dicatat bahwa Hukum Ohm hanya berlaku untuk konduktor ohmik (seperti kawat logam pada suhu tetap). Komponen non-ohmik seperti dioda dan lampu pijar tidak mengikuti hubungan linear ini karena hambatannya berubah terhadap suhu atau tegangan.
Tujuan Praktikum
- Memahami konsep dasar Hukum Ohm dan hubungan linear antara tegangan, arus, dan hambatan.
- Menentukan besarnya arus dan tegangan listrik dalam suatu rangkaian seri sederhana.
- Membuktikan bahwa grafik V vs I membentuk garis lurus dan menghitung nilai hambatan dari gradien grafik.
5. Sesi Kuis Interaktif — Uji Pemahamanmu (20 Soal)
20 soal pilihan ganda tentang Hukum Ohm, rangkaian listrik, dan analisis data. Setiap jawaban langsung disertai penjelasan.
🔑 Daftar Praktikum:
- Bidang Miring Galileo
- Deret Balmer
- Difraksi
- Difraksi Cahaya
- Efek Doppler
- Function Generator
- Gerak Jatuh Bebas
- Hukum Kirchoff
- Hukum Ohm
- Indeks Bias Larutan
- Induksi Magnet
- Interferensi
- Interferometer Michelson
- Jembatan Wheatstone
- Kalor Jenis
- Koefisien Muai Panjang
- Konstanta Joule
- Kundt Tube
- Lensa Tipis
- Medan Magnet
- Milikan
- Modulus Elastisitas
- Momen Inersia
- Radiasi Alfa
- Radiasi Gamma
- Refleksi
- Resonansi Bunyi
- Resonansi LRC
- Sistem Pegas
- Tetapan Planck
- Tumbukan
- Viskositas Zat Cair
